Belum Ingin Berbahagia

tumblr_nlltlwLEUh1s2zu6qo1_1280

Belum Ingin Berbahagia (BGM: Colbie Caillat – In Love Again)

Kalau kau berdiri di antara sesuatu yang menyakitimu tapi selalu membuatmu bahagia dan yang membuatmu bisa melihat masa depan tapi merasa kosong, mau pilih yang mana? Opsi yang konyol memang, tapi seperti itulah kenyataannya.

Ada satu hal, yang membuatku sangat tersakiti setiap saat karena aku menjadi benalu dalam sebuah hubungan yang tak bisa terpisahkan, tapi hal itu membuatku bahagia juga karena lelaki yang membuatku menjadi benalu itu memberiku kebahagian yang orang lain tak bisa berikan. Dia begitu menawan dengan caranya sendiri, membuatku merasa bahagia, membuatku merasa hidup lagi setelah keterpurukan yang melanda dengan kehadiran lelaki sebelumnya. Lalu ia menolongku dengan mewarnai hidupku lagi setelah sekian lama abu-abu. Ia memberiku begitu banyak warna bahagia dan terang, tak lupa pula ia menuangkan banyak warna hitam dan gelap yang bersandingan dengan warna terang itu. Ternyata warna terang itu tak terkalahkan oleh warna gelap yang mengelilinginya, dan bahagia terus tercipta di sisiku. Bahagia dan terluka di saat bersamaan. Kemarin.

Di sanalah perbedaan membentang lebar di antara kami. Karena kami dilahirkan berbeda dan itu adalah sesuatu yang membebani kami dan menghalangi kebersamaan kami. Sedekat apapun jarak yang pernah kami buat, tetap tak bisa mendekatkan perbedaan mendasar yang kami miliki. Aku harus terus-terusan meringis sinis saat menyuruhnya pergi ke gereja setiap minggu dan ia pun tak kalah sinis menyuruhku sholat lima waktu setiap hari. Kami bisa apa? Memandang masa depan bersama saja tak berani. Tak ada masa depan untuk kami berdua, kami tak tertolong. Seperti hubungan kami yang tak bisa terselamatkan lagi. Pertama, aku hanyalah orang ketiga dalam hubungannya. Kedua, perbedaan mendasar kami tak terelakkan lagi. Ketiga, aku lelah berbahagia dalam kesakitan dan aku lelah berjuang akan sesuatu yang tak bisa kuperkirakan akhirnya. Keempat, dengan meninggalkanmu, mungkin semua akan baik-baik saja dan cerita kita akan berlalu sebagai kenangan.

Ada satu hal lagi, di mana aku diberi jalan untuk masa depan yang indah karena terlepas dari kebahagiaan yang menyakitkan tetapi aku terlalu naif untuk menerima dan menjalaninya. Aku diberi otak cemerlang karena bisa menampung begitu banyak cerita di dalam otak dalam waktu bersamaan dan bisa berpikir cepat ketika keadaan dalam super genting, tapi aku tidak menggunakannya dengan baik. Karena kekosongan yang saat ini sedang menjajah tak bisa sama sekali diberi ampun, mereka bertengger menggerogoti hidupku seperti penyakit mematikan. Aku tak tahu harus bagaimana sementara hati dan hidupku kosong, masa depan cemerlang menantiku dengan manis. Banyak sekali kesempatan yang kulewatkan karena terlalu lama memandangi sepetak kertas hitam di dinding kamar bertuliskan agenda-agenda omong kosong yang tak kunjung terlaksana.

Sampai seseorang datang, menggoyahkan hati dan hidup yang kosong ini. Masih terlalu dini memang menyambut kedatangannya. Atau sebenarnya aku yang mengundangnya datang ke hati ini? Entahlah. Yang jelas semua ini terasa terlalu terburu-buru karena aku gampang tergoda dengan hal-hal yang membahagiakan. Oh siapa yang tidak begitu? Semua orang pasti merasakan hal yang sama. Aku begitu tergoda dengan kebaikan hatinya dan kenangan-kenangan yang kami tinggalkan. Banyak sekali hal yang membuat kami bertemu dan bersama, ya, karena dia sebodoh diriku. Siapa yang tidak tergiur dengan lelaki baik hati meski brengsek, tinggi menawan proporsional, tampan dengan rambut ikalnya yang seksi, ucapannya yang mesum tapi mengundang tawa, candaan garingnya yang sangat ingin ditertawai, pandangannya yang sok terjaga padahal penuh nafsu. Tapi dari semua itu, yang paling menggetarkan hati adalah kenyataan bahwa kami bisa sholat berjamaah bersama, meminta kebahagiaan dariNya dengan satu Tuhan yang sama. Dia pun tak perlu membuatku menjadi benalu dalam hubungannya yang dengan bukan siapa-siapa. Jatuh hati padanya sangatlah mudah, tapi juga begitu sulit. Melihat masa depan bersamanya sangat mungkin dan lurus. Tapi satu hal yang pasti, dia tak menginginkanku seperti aku menginginkannya. Bahkan aku tak tahu kalau aku menginginkannya, wow. Dan aku tak mengizinkan satu kesempatan saja masuk ke jalan ini sedikitpun, karena aku tahu pada akhirnya pasti luka hati yang akan tertinggal. Aku belum siap terluka lagi, aku belum siap terjatuh lagi. Aku belum ingin berbahagia lagi.

 

28 November 2015, Marcell Milenia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s