Bye, My Love

Ternyata rasanya begini. Melihat seseorang yang sangat kita cintai bersanding dengan orang lain yang akan menjalani sisa kehidupan bersama-sama dalam ikatan yang halal. Ini pengalaman paling pertama saat aku harus hadir di acara pernikahan mantan. Awalnya aku nggak tahu harus berbuat apa di tempat kejadian karena aku takut tak bisa menahan diri dan tumpah ruah. Dan nyatanya di awal memang begitu, aku banjir air mata. Bukan karena melihat dia dan mempelainya, tapi karena respon teman-temanku dengan keputusan yang kubuat untuk hadir di acara sakralnya. Dengan ucapan-ucapan nyentil, mereka berhasil membuatku berkaca-kaca dan merusak make-up tipis yang kupakai. Sialan. Kenapa nangisnya karena hal sesepele ini. Maksudku, kenapa aku bukan menangis karena dia yang tertawa bahagia di sisi istrinya, tapi karena teman-temanku yang nyebelin itu. Serius aku nggak berniat sama sekali untuk nangis karena dia dan istrinya. Beberapa orang agaknya sedang menanti moment itu, di mana aku akan histeris dan bersedih sampai tersedu-sedu di tempat karena nggak kuat melihat mereka berdua bersanding bersama. Tentu saja, AKU INGIN MENANGIS!

Tapi apakah itu perlu dilakukan di keadaan demikian?

Nggak perlu. Aku nggak perlu menunjukkan kepada dunia secara langsung kesedihan yang kuderita. Aku hanya perlu membuat semua orang tidak begitu khawatir dengan keputusanku untuk hadir. Toh sebenarnya mereka mungkin tau bagaimana perasaanku, sekadar tau.

Maka dari itu aku nggak menangis sama sekali. Meskipun ada beberapa momen yang memang bikin aku nggak bisa menahan diri untuk nggak menangis. Seperti saat dukungan spontan teman-teman yang bikin aku terharu, dan ketika aku selesai bersalaman dengan dia dan istrinya, begitu aku melepas genggaman tangan mba pengantin setelah mengucapkan selamat menggunakan bahasa Jepang karena dia adalah seseorang yang tergila-gila dengan semua yang berbau ke-Jepangan, begitu aku berdiri di balik tiang gedung di samping panggung, air mataku merembes dan membuatku harus menutupi wajahku dengan rambut yang untungnya ku gerai.

Tak ada air mata untuk dia, karena aku nggak mengizinkan diriku pecah di hadapannya.

Lain halnya ketika aku tiba di rumah, berbaring di atas kasur dan siap memejamkan mata. Melakukan rutinitas seperti biasa, yaitu browsing internet sebelum tidur. Dengan sengaja ingin mengecek soundtrack film Critical Eleven yang belum sempat-sempat dari jauh hari. Akhirnya aku buka dan langsung jatuh hati dalam sekali dengar. Semuanya begitu menyayat hati. Membuatku nggak bisa menahan apa yang kutahan-tahan sepanjang hari ini.

Lalu aku menangis. Begitu tersedu-sedu dan nggak bisa berhenti. Butuh waktu dua jam sampai akhirnya aku berhenti menangis, kelelahan dan terlelap.

Apa sih yang membuat semua ini begitu menyakitkan? Kenapa kesakitan itu muncul dengan bantuan dari lagu-lagu galau? Kalau aku nggak mendengar lagu itu, mungkin kesedihannya nggak separah yang terjadi. Ternyata sedihnya luar biasa memilukan. Hampir setara dengan kejadian aku kehilangan Mama. Oh nggak, mungkin setengahnya.

Aku sampai kehabisan kata-kata karena nggak tau harus mengungkapkannya gimana. Aku patah hati banget, sakit hati banget, nyesek banget dan marah luar biasa. Aku kepingin ngamuk, kepingin pergi jauh, kepingin mengakhiri ini semua. Tapi ternyata aku masih diam di tempat dan hanya menerima apa yang terjadi. Karena aku enggan untuk beranjak. Aku sangat menikmati kesakitan ini dan mungkin aku akan tenggelam dalam kedukaan untuk beberapa waktu ke depan.

Ini adalah kejadian yang sangat luar biasa dan aku nggak akan bisa sebegitu cepat beranjak dari titik ini meskipun banyak sekali kesempatan yang mendorongku ke jalan yang lain.

Aku sayang dia, aku masih sayang.

Karena bagaimana pun, dia adalah lelaki terdekat yang pernah hadir di hidupku sampai saat ini. Mungkin bukan yang paling ku cintai selama perjalanan asmaraku, tapi aku tahu dia sedikit banyak telah membuatku berubah menjadi seseorang yang lebih menghargai apapun yang ada di dunia ini.

Dia mungkin bukan yang paling berkesan dalam perjalanan asmaraku, tapi aku tahu dialah yang paling mengerti diriku yang sebenarnya, kisah hidupku hingga yang paling dalam dan dia yang menyelamatkanku dalam banyak hal di hidup ini.

Aku dan dia mungkin tak akan pernah bersama lagi, aku tahu itu dengan pasti. Dan aku pun tak berharap untuk bersama lagi dengannya karena tak ada kesempatan sama sekali. Dia telah menempuh kehidupan yang baru bersama perempuannya, menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda.

Aku hanya perlu melanjutkan hidup, dengan atau tanpa mencintainya. Aku tak peduli.

Aku tak ingin mengusik hidupnya, aku tak ingin menjadi duri dalam daging dan aku tak ingin membuat hidupku semakin buruk dengan mencintainya secara gamblang.

Dia tak perlu tahu, tapi siapapun yang membaca ini akan tahu, betapa aku mencintainya untuk saat ini. Karena kehadirannya di dunia ini membuat hidupku berarti dan rasanya aku tak ingin mengakuinya bahwa dialah lelaki terbaik yang pernah ku miliki. Walaupun hanya sekejap, aku merasa sangat beruntung, bisa bertemu dan mengenalmu sejauh ini. Aku tak menyesali apapun.

Tak ada yang perlu ku sesali kalau menyangkut dirimu, Agam Wisesa.

Selamat menempuh hidup baru, terima kasih kamu pernah mau denganku dan pernah menjadi bagian dari hidupku yang sangat berharga, masih sangat berharga.

IMG_20170426_131502

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s